Dinkes Kebumen Gelar Advokasi Pencegahan Stunting Di Kabupaten Kebumen

Thursday, 4 October 2018 / Berita Terkini

KEBUMENKAB.GO.ID - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kebumen menggelar "Advokasi Pencegahan Stunting" di Rumah Dinas Wakil Bupati Kebumen, Kamis (4/10). Advokasi dihadiri Wakil Bupati KH.Yazid Mahfud, Ketua DPRD Cipto Waluyo, Ketua Komisi B Sudarmaji, LSM Peduli Kesehatan, As'syiah dan Muslimat,  Kadinkes dr.Hj.Rini Kristiani M.Kes, Kabid Kesehatan Masyarakat, Kusbiyantoro SKM, M.Kes, Kabag Kesra Drs.Wahib Tamam M.Si serta jajaran instansi terkait lainnya dengan menghadirkan  narasumber Prof.Hamam Hadi guru besar UGM Jogyakarta.

Wakil Bupati dalam sambutan pembukaan mengucapkan terimakasih atas kehadiran narasumber yang telah bersedia memberikan paparan terkait upaya penanganan stunting di Kebumen. 

Wakil Bupati menjelaskan, 
pemerintah kabupaten hingga saat ini terus fokus mengatasi angka kemiskinan di sejumlah wilayah serta mengangkat derajat kesehatan masyarakat. "Termasuk mengatasi persoalan stunting di Kebumen.  Belum lama ini juga kami mendapat kunjungan dari Kemendes PDT ke Kecamatan Rowokele untuk melihat secara langsung penderita stunting di kecamatan tersebut. Dan untuk mengatasi permasalahan stunting ini perlu dukungan dari berbagai pihak agar Kebumen terbebas dari stunting," ujar Wabup.

Pada kesempatan yang sama, Kadinkes dr.Hj.Rini Kristiani M.Kes menjelaskan, penderita stunting di Kebumen saat ini mencapai 124 anak yang tersebar di 10 desa di 9 kecamatan, seperti Kecamatan Rowokele, Buayan, Mirit, Ambal, Buluspesantren, Adimulyo dan lainnya. 

"Pada tahun 2018 ini penderita stunting di Kebumen cenderung menurun signifikan. Pada tahun 2017 penderita stunting mencapai 28,5% dari 312 sampel balita. Dan tahun 2018 penderita stunting hanya 12,8 % dari total 78.926 anak yang telah diidentifikasi oleh 35 puskesmas yang ada di Kebumen," ungkap Kadinkes.

Kadinkes juga mengungkapkan, angka penurunan yang signifikan ini karena tak lepas dari kerja keras tenaga kesehatan yang selalu memberikan sosialisasi dan konseling tentang  pemberian ASI eksklusif, tambahan suplemen bagi ibu hamil, pemberian makanan bergizi dan berprotein kepada bayi dan anak, pemantauan tumbuh kembang anak di posyandu, serta beberapa kegiatan lainnya.

Sementara Prof. Hamam Hadi mengatakan, hal terpenting dalam penanganan dini stunting adalah 1000 hari pertama. Artinya sejak bayi dalam kandungan, lahir hingga pertumbuhan selama 2 tahun adalah masa-masa proses pertumbuhan baik otak maupun tubuh. "Dalam 1000 hari harus diberi asupan gizi dan protein pada bayi dan ibu hamil," ujar Prof.Hamam Hadi.

Selain itu, pemerintah kabupaten melakukan modifikasi pemberian makanan tambahan untuk bayi dan balita. Membekali petugas kesehatan di puskesmas lebih profesional dan penyedian peralatan kesehatan yang berstandar. "Selanjutnya lakukan up dating data warga miskin, ibu hamil dan pemenuhan air bersih dan jambanisasi. Jika beberapa hal ini dapat dilakukan dapat mencegah terjadinya stunting," jelas Prof.Hamam Hadi. (mn)