Masyarakat Kebumen Harus Hindari Aids

Saturday, 1 December 2018 / Berita Terkini

SEMINAR AIDS.jpg

KEBUMENKAB.GO.ID - Tahun 2030 Pemerintah RI menargetkan three zero kasus Aids, yakni tidak ada infeksi baru, tidak ada kematian akibat aids dan tidak ada stigma dan diskriminasi penderita aids. Untuk mencapai eliminasi hiv aids ini, maka masyarakat khususnya di Kebumen harus buka mata hati agar tidak melakukan perilaku seks yang menyimpang. Demikian inti pesan yang disampaikan Staf Ahli Bupati Bidang SDM dan Kemasyarakatan H. RAI Ageng Sulitiyono Handoko SIP, M.Si saat membuka acara seminar bertajuk "Saya Berani, Saya Sehat" di Hotel Candisari Karanganyar, Sabtu (1/12). H.RAI. Ageng Sulistiyo juga mengungkapkan, kasus hiv aids di Kebumen hingga September 2018 sebanyak 1.103 kasus, yang terdiri dari HIV 417, Aids 686 dan meninggal 406 orang. "Untuk itu perlu perhatian, komitmen dan dukungan nyata dari semua pihak dalam pencegahan dan pengendalian hiv aids. Penyebarluasan informasi yang benar tentang hiv aids kepada masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kepedulian dan peran aktif masyarakat agar tidak ada lagi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA," jelas RAI Ageng Sulistiyo. Sementara itu, Kabid P2P Dinkes Kebumen, Tri Anggorowati SKM, M.Kes dalam laporan kegiatan menjelaskan, seminar bertajuk "Saya Berani, Saya Sehat" ini untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian seluruh lapisan masyarakat terhadap bahaya hiv aids. Masyarakat hendaknya mau melakukan tes hiv dan melanjutkan dengan pengobatan ARV sedini mungkin jika terdiagnosa hiv. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang mengetahui status hiv dan mendapatkan pengobatan ARV dini, maka dapat mendorong percepatan tetcapainya penurunan epidemi HIV di Indonesia. Sehingga pada 2030 mendatang Indonesia dapat dinyatakan sebagai negara eliminasi aids atau three zero. "Dinkes Kebumen hingga saat ini terus melakukan upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PPIA). Hal ini agar generasi penerus terselamatkan dari penularan HIV. Ibu hamil dengan HIV diharapkan sedini mungkin minum ARV. Sebab, ARV tak hanya menghindarkan penularan HIV kepada bayi, juga menghindarkan bayi yang dilahirkan mengalami kekerdilan atau stunting," ujar Tri Anggorowati. Selain itu kata Tri, paradigma masyarakat terkait hiv aids yang ditakutkan menjadi penyakit yang mematikan harus segera dapat diubah. Sejatinya, penyakit Aids ini dapat dikelola dan ada obatnya. Kegiatan seminar yang digagas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kebumen ini diikuti 200 orang terdiri dari dokter, konselor, guru BK, LSM dan masyarakat peduli Aids. Hadir sebagai narasumber Dr. R. Satriyo Budhy Susilo Sp.PD, M.Kes dari RSUD Dr.Moewardi Surakarta, Muhamad Darmono, S.Kep.Ns dari RSUP dr.Karyadi Semarang, dan Ratih Winanti, S.Psi,M.H, psikolog dari RSUD Banyumas.(mn)