KEBUMEN — Perajin Genteng Sokka di Kebumen berpeluang mendapat pasar baru melalui Gerakan Gentengisasi Jawa Tengah. Namun, stok genteng siap jual di sejumlah produsen disebut hampir habis karena produksi telah dipesan untuk kebutuhan rutin, termasuk revitalisasi sekolah.

Kebumen ditunjuk sebagai lokasi peluncuran program yang digagas Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) tersebut. Program ini juga diarahkan untuk mendukung perbaikan hunian masyarakat berpenghasilan rendah.

 

Peluang permintaan genteng berkaitan dengan peningkatan alokasi Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Kebumen, dari 190 unit rumah pada 2025 menjadi 889 unit pada 2026. Jawa Tengah secara keseluruhan mendapat alokasi 35.000 unit.

Yuda, perwakilan industri kecil dan menengah (IKM) genteng di Sruweng, mengatakan stok genteng matang hampir tidak tersedia karena sebagian besar produksi sudah dipesan.

Menurutnya, perajin membutuhkan kepastian harga, jumlah pesanan, dan mekanisme pembayaran agar dapat menyiapkan modal serta meningkatkan produksi.

 

Bupati Kebumen Lilis Nuryani berharap program tersebut membuka peluang penjualan bagi produsen lokal tanpa mengabaikan dampak lingkungan.

“Kami berharap Genteng Sokka dapat terserap optimal dalam program ini untuk melindungi lapangan kerja lokal. Di sisi lain, aspek pemulihan lingkungan akibat penambangan bahan baku juga harus tetap dijaga secara berkelanjutan,” ujar Lilis, Senin (19/10/2026).

 

Kementerian PKP memperbolehkan penerima BSPS membeli genteng langsung dari produsen atau IKM, sepanjang memenuhi persyaratan teknis, termasuk pengujian kekuatan dan ketahanan terhadap air.

Untuk tahap awal, pemerintah merencanakan distribusi satu juta keping genteng dari sembilan kabupaten sentra produksi di Jawa Tengah, termasuk Kebumen. Peluncuran program dijadwalkan pada akhir 2026.